JAKARTA (8/9) - Gelombang kepedulian lingkungan datang dari bawah. Ribuan masyarakat di seluruh Indonesia kini berbondong-bondong "patungan untuk hutan" melalui berbagai platform donasi dan komunitas.
Gerakan ini muncul sebagai respons terhadap deforestasi dan kebakaran hutan yang terus terjadi. Alih-alih menunggu bantuan besar, warga memilih turun tangan langsung dengan mengumpulkan dana untuk membeli, merawat, dan mereboisasi lahan kritis.
Masyarakat mengumpulkan dana lewat platform digital. Uang dipakai untuk membeli lahan hutan terdegradasi atau menyewa lahan dari masyarakat adat.
Dana juga dipakai untuk bibit, perawatan 3 tahun pertama, dan gaji ranger lokal.
Setiap donatur dapat laporan titik koordinat, foto drone, dan update pertumbuhan pohon.
Dampak yang Dirasakan
Komunitas di Kalimantan, Sumatra, dan NTT mengaku sudah menyelamatkan lebih dari 10.000 hektare lahan dalam 2 tahun terakhir. Selain menyerap karbon, hutan yang dipulihkan juga jadi sumber air dan ekonomi warga lewat agroforestri.
"Kami sadar pemerintah terbatas. Jadi kami patungan. Rp20 ribu dari 1 juta orang itu sudah bisa beli 2 hektare hutan," ujar salah satu inisiator gerakan di Yogyakarta.
Aktivis lingkungan mengapresiasi gerakan ini, tapi mengingatkan pentingnya pendampingan hukum agar lahan yang dibeli tidak diserobot. Pemerintah juga didorong memberikan insentif pajak bagi donatur dan pengelola hutan rakyat.
---
(BLL)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar