JAKARTA, RADAR GARUDA (30/10). — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah tidak akan menembus level Rp19.000 per dolar Amerika Serikat (AS), meskipun mata uang domestik masih menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Keyakinan tersebut didasarkan pada penilaian bahwa kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif stabil dan memiliki sejumlah penopang untuk menghadapi gejolak pasar keuangan.
Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga saat menanggapi proyeksi pelemahan rupiah yang diperkirakan berpotensi mencapai Rp19.000 per dolar AS menjelang akhir 2026. Pemerintah, menurutnya, tetap mencermati perkembangan nilai tukar, tetapi melihat fundamental ekonomi nasional masih memberikan alasan untuk bersikap optimistis.
Tekanan terhadap rupiah terlihat dalam perdagangan Rabu (28/10), ketika mata uang Garuda ditutup melemah pada kisaran Rp18.184 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.156 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan kuatnya tekanan eksternal maupun sentimen pasar domestik terhadap mata uang Indonesia.
Salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah adalah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, terutama akibat perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut mendorong investor global lebih berhati-hati dalam menempatkan modal dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset yang dianggap lebih aman.
Ketegangan geopolitik juga berdampak terhadap harga minyak dunia yang bertahan di atas US$115 per barel. Tingginya harga energi berpotensi meningkatkan beban impor Indonesia, memperbesar kebutuhan valuta asing, serta memberikan tekanan tambahan terhadap kondisi fiskal apabila berlangsung dalam waktu lama.
Selain itu, ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat turut memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang. Apabila suku bunga AS meningkat, aset keuangan berbasis dolar berpotensi menjadi lebih menarik bagi investor internasional. Kondisi tersebut dapat mendorong perpindahan modal dari pasar negara berkembang dan memperkuat tekanan terhadap mata uang domestik.
Dari dalam negeri, sentimen pasar saham juga menjadi perhatian. Kekhawatiran mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut memengaruhi persepsi investor terhadap aset keuangan nasional. Peningkatan kebutuhan dolar AS menjelang akhir bulan juga menjadi faktor tambahan yang memengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing.
Meski menghadapi berbagai tekanan, Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang menjadi salah satu penyangga ketahanan eksternal. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa pada akhir September 2026 mencapai US$146,3 miliar, relatif stabil dibandingkan posisi Agustus sebesar US$146,5 miliar.
Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi itu juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Ketersediaan cadangan devisa dinilai memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memenuhi kebutuhan transaksi internasional.
Dalam menghadapi gejolak pasar, Bank Indonesia terus memperkuat langkah stabilisasi melalui berbagai instrumen kebijakan moneter. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta transaksi spot di pasar valuta asing.
Bank sentral juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar keuangan dan memastikan mekanisme perdagangan berjalan dengan baik. Koordinasi dengan pemerintah, pelaku pasar, serta korporasi turut diperkuat untuk merespons perkembangan kebutuhan valuta asing.
Di sisi lain, ketahanan rupiah juga membutuhkan dukungan dari sektor riil. Kinerja ekspor, pengendalian impor, peningkatan investasi, serta terjaganya neraca perdagangan menjadi faktor penting dalam memperkuat pasokan devisa nasional. Dengan demikian, stabilitas nilai tukar tidak hanya bergantung pada intervensi bank sentral, tetapi juga pada kemampuan perekonomian menghasilkan devisa secara berkelanjutan.
Pemerintah juga menghadapi tantangan untuk menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika pasar global. Kepastian kebijakan ekonomi, pengelolaan fiskal yang terukur, serta perbaikan transparansi pasar keuangan menjadi bagian penting dalam mempertahankan daya tarik investasi Indonesia.
Optimisme Airlangga terhadap rupiah menjadi sinyal bahwa pemerintah masih melihat peluang untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan eksternal. Namun, perkembangan nilai tukar ke depan tetap akan dipengaruhi oleh kondisi geopolitik, kebijakan moneter Amerika Serikat, arus modal asing, serta efektivitas kebijakan stabilisasi di dalam negeri.
Dengan dukungan cadangan devisa yang memadai, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, serta penguatan sektor ekspor, pemerintah berharap tekanan terhadap rupiah dapat dikelola. Upaya tersebut menjadi penting agar gejolak nilai tukar tidak mengganggu stabilitas harga, kegiatan usaha, maupun daya beli masyarakat.(arfi)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar