Lifestyle

7 Pelajaran Era 90-an yang Perlu Dikenalkan kepada Gen Alpha

  • Arfi
  • Sabtu, 31 Oktober 2026
  • menit membaca
  • 1x baca
7 Pelajaran Era 90-an yang Perlu Dikenalkan kepada Gen Alpha

 

JAKARTA, RADAR GARUDA (31/10) – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, sejumlah orang tua generasi Milenial mulai mengenalkan kembali kebiasaan masa kecil era 1990-an kepada anak-anak Generasi Alpha. Langkah ini dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang dinilai tetap penting, mulai dari kemandirian, kreativitas, kedisiplinan, hingga kemampuan bersosialisasi secara langsung.

Generasi Alpha yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan internet, telepon pintar, serta berbagai platform digital memiliki pengalaman masa kecil yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kehadiran teknologi memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi dan hiburan, tetapi juga menghadirkan tantangan dalam membangun interaksi sosial, aktivitas fisik, serta kebiasaan belajar anak.

Karena itu, pengalaman masa kecil generasi 90-an dapat menjadi salah satu inspirasi bagi orang tua dalam membangun pola pengasuhan yang seimbang. Bukan berarti anak harus dijauhkan sepenuhnya dari teknologi, melainkan mengenalkan kembali kebiasaan positif yang dapat mendukung tumbuh kembang mereka.

Berikut tujuh pelajaran era 90-an yang dapat diterapkan orang tua Milenial kepada anak-anak Generasi Alpha.

1. Bermain di Luar Rumah dan Mengenal Lingkungan

Salah satu kebiasaan anak-anak era 90-an adalah menghabiskan waktu bermain di luar rumah bersama teman sebaya. Berbagai permainan seperti petak umpet, lompat tali, bermain sepeda, dan kejar-kejaran menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan tersebut dapat dikenalkan kembali kepada anak-anak masa kini melalui aktivitas luar ruangan yang aman dan sesuai usia. Selain membantu meningkatkan aktivitas fisik, bermain bersama teman juga memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama, serta menyelesaikan konflik sederhana.

Orang tua dapat mengajak anak bermain di taman, bersepeda bersama, atau melakukan kegiatan rekreasi keluarga tanpa harus selalu bergantung pada perangkat digital.

2. Membiasakan Membaca Buku

Pada era 90-an, buku cerita, majalah anak, dan bacaan bergambar menjadi salah satu sumber hiburan sekaligus pengetahuan bagi anak-anak.

Kebiasaan membaca memiliki manfaat penting dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, memperluas wawasan, serta meningkatkan daya imajinasi. Orang tua dapat membangun kebiasaan tersebut dengan menyediakan buku sesuai usia dan minat anak.

Membacakan cerita sebelum tidur juga bisa menjadi kegiatan sederhana untuk mempererat hubungan antara orang tua dan anak. Dengan pendekatan menyenangkan, membaca tidak hanya menjadi kewajiban belajar, tetapi juga aktivitas yang dinantikan anak.

3. Mengenalkan Permainan Tradisional

Permainan tradisional seperti congklak, ular tangga, engklek, petak umpet, dan lompat tali merupakan bagian dari pengalaman masa kecil generasi terdahulu.

Di balik kesederhanaannya, permainan tersebut mengandung berbagai nilai pendidikan. Anak dapat belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, menerima kekalahan, menyusun strategi, dan menghargai teman bermain.

Permainan tradisional juga dapat menjadi alternatif kegiatan keluarga untuk mengurangi ketergantungan terhadap hiburan berbasis layar. Selain itu, mengenalkan permainan tersebut turut membantu menjaga warisan budaya agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

4. Mengutamakan Kebersamaan Keluarga

Kebiasaan berkumpul bersama keluarga, makan bersama, dan berbincang setelah menjalani aktivitas sehari-hari merupakan salah satu nilai kehidupan yang patut dipertahankan.

Di tengah kesibukan orang tua dan aktivitas digital anak, waktu berkualitas bersama keluarga terkadang menjadi hal yang sulit diwujudkan.

Padahal, komunikasi langsung dapat membantu anak merasa diperhatikan, didengarkan, dan dihargai. Orang tua dapat memulai dari kebiasaan sederhana, seperti makan malam bersama tanpa menggunakan telepon genggam atau menyediakan waktu khusus untuk mendengarkan cerita anak.

Kebiasaan tersebut juga dapat membangun kedekatan emosional dan membantu orang tua memahami perkembangan serta kebutuhan anak.

5. Mengajarkan Kemandirian Sejak Dini

Generasi 90-an umumnya dibiasakan melakukan sejumlah aktivitas sederhana secara mandiri, seperti merapikan mainan, menyiapkan perlengkapan sekolah, dan membantu pekerjaan rumah sesuai kemampuan.

Nilai kemandirian ini tetap relevan untuk diterapkan kepada Generasi Alpha. Anak perlu diberikan kesempatan mencoba menyelesaikan tugas sederhana tanpa selalu mendapatkan bantuan dari orang tua.

Melalui kebiasaan tersebut, anak dapat belajar bertanggung jawab, memahami konsekuensi tindakan, serta mengembangkan rasa percaya diri.

Orang tua juga perlu memberikan apresiasi terhadap usaha anak, bukan hanya berfokus pada hasil akhirnya.

6. Mengembangkan Kreativitas Tanpa Bergantung pada Gawai

Sebelum perangkat digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, anak-anak banyak menghabiskan waktu dengan menggambar, membuat kerajinan tangan, bermain balok, menyusun puzzle, dan menciptakan permainan sendiri.

Aktivitas sederhana tersebut memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah.

Orang tua dapat menyediakan kertas, pensil warna, bahan kerajinan, atau mainan edukatif yang mendorong anak bereksplorasi. Anak juga dapat diajak membuat karya sederhana dari barang-barang yang tersedia di rumah.

Penggunaan teknologi tetap dapat diperkenalkan untuk mendukung pembelajaran, tetapi perlu diimbangi dengan kegiatan kreatif yang melibatkan interaksi dan pengalaman langsung.

7. Menanamkan Sopan Santun dan Kepedulian terhadap Sesama

Pelajaran lain yang tidak kalah penting dari era 90-an adalah kebiasaan menghormati orang lain dan menjaga hubungan sosial.

Mengucapkan salam, meminta izin, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, serta berbagi dengan teman merupakan nilai dasar yang perlu diajarkan sejak dini.

Di tengah perkembangan komunikasi digital, anak juga perlu memahami pentingnya menghargai orang lain, baik ketika berinteraksi secara langsung maupun melalui internet.

Orang tua memiliki peran penting dalam memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari. Anak cenderung lebih mudah memahami nilai kesopanan dan kepedulian ketika melihat langsung penerapannya di lingkungan keluarga.

Menyeimbangkan Teknologi dengan Nilai Kehidupan

Mengenalkan kembali kebiasaan positif era 90-an bukan berarti orang tua harus menolak perkembangan teknologi. Perangkat digital tetap memiliki manfaat besar apabila digunakan secara tepat, sesuai usia, dan dengan pendampingan orang tua.

Hal terpenting adalah menciptakan keseimbangan antara aktivitas digital dan pengalaman nyata. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk bermain, bergerak, membaca, berkreasi, berkomunikasi, serta membangun hubungan sosial di lingkungan sekitarnya.

Orang tua Milenial dapat mengambil nilai-nilai terbaik dari pengalaman masa kecil mereka untuk diterapkan dalam pola pengasuhan masa kini. Dengan demikian, Generasi Alpha tidak hanya tumbuh sebagai generasi yang akrab dengan teknologi, tetapi juga memiliki kemandirian, kreativitas, empati, dan kemampuan bersosialisasi.

Pada akhirnya, pelajaran berharga dari era 90-an bukan terletak pada permainan atau benda-benda yang digunakan pada masa itu, melainkan nilai kehidupan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.(arfi)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar