MANDALIKA — RADAR GARUDA, (12/10). Upaya penguatan struktur ekonomi kerakyatan di wilayah lingkar sirkuit internasional memasuki babak baru. Memanfaatkan momentum perhelatan akbar Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, mengintegrasikan program hilirisasi produk lokal dengan memberdayakan kelompok inklusif, termasuk komunitas perempuan nelayan pesisir dan penyandang disabilitas.
Langkah pembinaan kuartal IV ini secara nyata berhasil mengubah komoditas mentah bernilai rendah menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tambah tinggi. Salah satu terobosan utama yang dipamerkan di kawasan sirkuit adalah konversi garam laut mentah hasil tangkapan tradisional menjadi varian kosmetik spa premium, aromaterapi, sabun herbal, hingga bath salt dengan lonjakan nilai jual hingga dua kali lipat.
Manager SMEPP Pertamina, Fety, menjelaskan bahwa pemilihan produk kosmetik berbasis kearifan lokal ini didasarkan pada riset pasar terhadap tren kebutuhan wisatawan mancanegara yang menyukai produk perawatan tubuh ramah lingkungan. Kehadiran ratusan ribu penonton balap dunia secara otomatis bertindak sebagai jangkar perluasan pasar retail massal secara instan.
"Keterlibatan UMKM dalam kegiatan internasional ini tidak sekadar memberikan keuntungan finansial sesaat bagi pemilik usaha, melainkan membuka ruang kolaborasi baru di sekeliling mereka. Kami mendesak pelaku usaha lokal untuk meninggalkan pola jualan konvensional dan mulai mengadopsi standar kemasan internasional serta sistem pembayaran digital terintegrasi," ujar Fety dalam pemaparannya di , Senin (12/10).
Berdasarkan draf pengembangan kapasitas komoditas rakyat di sirkuit , program pemberdayaan ini bertumpu pada tiga pilar hilirisasi strategis:
* Standardisasi Kemasan Wisatawan: Memfasilitasi perajin kopi lokal (seperti Malindo Coffee) untuk mengadopsi kemasan sachet drip ringkas yang praktis, adaptif terhadap mobilitas tinggi turis asing, dan mudah dibawa sebagai buah tangan lintas negara.
* Integrasi Ekosistem Jasa Relaksasi: Menyediakan fasilitas area pijat kesehatan komunal bagi penonton sirkuit, yang mensinergikan terapis lokal dengan pelaku usaha minyak esensial herbal guna memutar omzet sektor jasa logistik domestik.
* Digitalisasi Pelacakan Ekspor: Melatih 30 UMKM pilihan unggulan, termasuk perajin mutiara lombok dan suvenir anyaman bambu "Loyok Kreatif", untuk membangun basis data pelacakan mandiri guna memetakan potensi negara tujuan ekspor baru pasca-balapan.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menggarisbawahi bahwa sirkuit internasional ini didorong untuk memutus rantai ketimpangan iklim investasi makro dengan ekonomi riil di tingkat akar rumput.
Melalui konsistensi sertifikasi mutu produk inklusif dan otomatisasi pemasaran digital ini, pertumbuhan omzet pelaku usaha mikro diharapkan mampu mengunci retensi devisa pariwisata nasional, sekaligus mentransformasi komunitas pesisir menjadi mandiri secara finansial dan berdaulat secara berkelanjutan.(arfi)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar