DENPASAR — RADAR GARUDA, (13/10). PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus bersama jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Bali memperketat pengawasan digital dan fisik pada nosel pengisian di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Langkah intervensi pasar ini secara taktis diambil untuk mengeliminasi praktik spekulasi pembelian berlebih (panic buying) serta memastikan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) subsidi tepat sasaran di tingkat konsumen akhir.
Pengetatan di jalur hilir ini berjalan simultan dengan kebijakan percepatan logistik energi maritim yang sedang dikerahkan di Pulau Dewata [c]. Guna mengurai antrean panjang kendaraan yang mengular di jalan raya, otoritas merombak total manajemen distribusi dengan memberlakukan skema koridor prioritas pengiriman langsung dari dermaga ke wilayah-wilayah yang paling terdampak fluktuasi stok.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa pasokan penopang dalam kondisi yang sangat aman seiring merapatnya kapal tanker pengangkut pasokan tambahan gabungan sebesar 26.200 kiloliter (KL). Muatan jumbo yang terdiri dari 18.000 KL Pertalite dan 2.500 KL Pertamax ini disalurkan secara berkala melalui dua gerbang utama, yakni Terminal BBM Integrasi (IT) Manggis di Karangasem serta Terminal BBM Sanggaran di Denpasar yang kini dioperasikan penuh selama 24 jam.
"Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembelian secara impulsif di luar batas wajar karena stok komoditas energi kami sangat berlimpah. Kami membagi kedatangan kapal tanker secara terjadwal pada tanggal 12, 14, dan 16 Oktober demi menjaga stabilitas kapasitas tangki timbun Terminal BBM, serta memastikan rotasi pengiriman mobil tangki ke SPBU ritel berjalan konstan tanpa interupsi birokrasi," tegas Ahad Rahedi dalam keterangannya, Selasa (13/10).
Berdasarkan cetak biru (blueprint) mitigasi krisis energi regional kuartal IV, penataan operasional penyaluran hilir ini ditopang oleh tiga regulasi logistik strategis:
• Rasionalisasi Matriks Saldo Minimum: Menggunakan parameter konsumsi normal harian Pertalite Bali sebesar 2.200 KL per hari sebagai batas bawah alarm pasokan untuk mendikte jadwal pengiriman unit tangki baru (re-order) sebelum persediaan di SPBU habis total.
• Karantina Suplai Objek Vital: Mengunci kelancaran pasokan energi utama terlebih dahulu pada klaster SPBU di koridor logistik bandara internasional, pusat pariwisata premium, serta jalur distribusi bahan pangan pokok.
• Digitalisasi Pelacakan Nosel: Mengoptimalkan integrasi sistem IT dan verifikasi pelat nomor kendaraan guna menyisir potensi penimbunan sepihak oleh oknum pengecer ilegal di tingkat akar rumput.
Otoritas moneter dan perdagangan daerah menyambut positif pengamanan ketat arus distribusi migas ritel in]. Penguncian pasokan distilat secara transparan dan terukur diharapkan mampu meredam kekhawatiran publik, menstabilkan biaya input transportasi logistik lokal, serta menjaga kedaulatan devisa pariwisata nasional Bali agar tetap resilien menghadapi lonjakan aktivitas ekonomi menjelang persiapan libur akhir tahun secara berkelanjutan.(arfi)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar