PALANGKA RAYA (16/10) - Fenomena langit berubah warna menjadi oranye pekat menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada Rabu-Kamis (14-15/10/2026). Fenomena apokaliptik ini viral di media sosial dan kini menjadi sorotan media internasional.Foto dan video yang beredar, termasuk foto kendaraan dengan plat KH yang terjebak kabut oranye, menunjukkan jarak pandang sangat terbatas. Warga harus menyalakan lampu kendaraan di siang hari.Fenomena ini bukan ilusi optik, melainkan indikator udara yang sangat beracun akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lahan gambut.
Kualitas Udara Level Berbahaya:
erdasarkan data Stasiun Pemantauan ISPU Kementerian Lingkungan Hidup, pada Kamis 14 Oktober pukul 12.05 WIB, nilai ISPU Palangka Raya mencapai 1.294 dengan parameter kritis PM2.5, masuk kategori BERBAHAYA.Data BMKG bahkan lebih mengkhawatirkan. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 melonjak hingga 2.512 mikrogram per meter kubik, jauh di atas ambang batas berbahaya 250,5 mikrogram. Media AS, The Washington Post, melaporkan AQI di sana sempat menembus angka 1.200.Laporan kepolisian menyebut masyarakat Palangka Raya telah menghirup udara kategori berbahaya selama 37 hari berturut-turut.
Dampak dan Sorotan Dunia:
Dampaknya langsung terasa. Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk PAUD, SD, dan SMP pada 15-17 Oktober 2026 karena kualitas udara masih berbahaya. Bencana ini juga tidak lagi sekadar krisis domestik. Reuters dan Channel News Asia melaporkan Singapura mencatat tingkat polusi PM2.5 terburuknya tahun ini di angka 284 akibat kiriman asap dari Kalimantan. BMKG memprediksi sebaran aerosol dengan nilai AOD mencapai 10,17, menandakan tingginya sebaran asap di atmosfer.Warga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker N95, bukan masker kain biasa, serta terus memantau informasi resmi kualitas udara. (Bll)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar