JAKARTA, RADAR GARUDA, (19/10). — Implementasi program bauran peremajaan tanaman tebu rakyat terbukti memberikan kontribusi masif pada penguatan kapasitas finansial para petani di tingkat akar rumput. Intervensi hulu yang digulirkan secara terintegrasi ini mampu mengonversi produktivitas lahan menjadi lompatan keuntungan komersial yang signifikan bagi ekosistem pertanian domestik.
Akselerasi pendapatan tersebut dicapai melalui program bongkar ratun, yaitu skema penggantian tanaman tebu usia tua dengan variitas bibit unggul baru yang disuplai secara rigid oleh Kementerian Pertanian. Hasil evaluasi di lapangan membuktikan bahwa bauran strategi ini mampu menghasilkan efisiensi hasil panen tebu secara masif . Setiap kenaikan produktivitas minimal satu ton tebu per hektare dilaporkan otomatis mendongkrak pendapatan bersih petani hingga menyentuh angka hampir Rp11 juta per hektare.
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara (PTPN III) Persero, Denaldy Mulino Mauna, menjelaskan bahwa fokus korporasi saat ini adalah mengunci keberlanjutan pasokan bibit berkualitas serta menjaga efisiensi pabrik penyulingan hulu-hilir. Langkah penapisan ini krusial agar margin keuntungan yang diterima petani rakyat tidak tergerus oleh pembengkakan biaya operasional harian.
"Tugas strategis PTPN bukan hanya sekadar memacu angka tonase di atas kertas, melainkan memastikan bahwa peningkatan produktivitas tersebut berdampak langsung pada perbaikan kesejahteraan nyata para petani tebu di daerah. Penambahan pendapatan hampir Rp11 juta per hektare dari program bongkar ratun ini menjadi parameter rigid bahwa kedaulatan pangan nasional berbasis kemitraan rakyat memiliki nilai keekonomian yang sangat tinggi," ungkap Denaldy Mulino Mauna dalam pemaparannya pada forum diskusi Agrifood, Senin (19/10).
Dalam cetak biru (blueprint) penguatan swasembada komoditas pemanis nasional kuartal IV, manajemen perkebunan negara menerapkan tiga pilar strategi operasional:
• Standardisasi Distribusi Benih Unggul: Menjamin ketepatan waktu distribusi varietas tebu bersertifikasi tinggi secara berkala ke klaster-klaster perkebunan rakyat untuk mengeliminasi risiko gagal tanam.
• Otomatisasi Kemitraan Pabrik Gula: Sinkronisasi jadwal tebang-angkut-giling tebu bersama petani lokal guna menekan penyusutan kadar rendemen akibat keterlambatan logistik komanditer.
• Karantina Manajemen Risiko Lahan: Menerapkan platform pendampingan teknis agronomis komparatif untuk mengedukasi petani mengenai tata cara pemeliharaan tanah pasca-eksekusi bongkar ratun.
Di sisi lain, bauran kebijakan peremajaan massal ini sukses mendorong volume produksi gula internal PTPN merangkak naik dari posisi 1,2 juta ton pada tahun lalu menjadi 1,3 juta ton pada tahun anggaran berjalan.
Melalui konsistensi perlindungan harga di tingkat hilir dan ketepatan mitigasi operasional hulu ini, industri gula nasional ditargetkan mampu mempertahankan status kemandirian pasokan pangan domestik secara kokoh, sekaligus memastikan kesejahteraan ekonomi masyarakat perdesaan tetap bertumbuh tangguh dan mandiri melintasi berbagai generasi secara berkesinambungan.(arfi)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar