Teknologi

Harga Emas Mahal, Industri Perhiasan Adopsi Teknologi Electroforming untuk Tekan Berat Logam

  • Arfi
  • Rabu, 21 Oktober 2026
  • menit membaca
  • 29x baca
Harga Emas Mahal, Industri Perhiasan Adopsi Teknologi Electroforming untuk Tekan Berat Logam

SURABAYA,RADAR GARUDA,(21/10). — Otoritas pembina dan pelaku industri perhiasan nasional secara agresif mempercepat implementasi bauran rekayasa teknologi hulu demi menyiasati lonjakan harga emas internasional. Langkah taktis ini dioptimalkan melalui penerapan metode pencetakan canggih guna menghasilkan perhiasan berdimensi besar namun memiliki bobot logam yang sangat efisien dan ringan.

Restrukturisasi manufaktur hilir tersebut diwujudkan melalui pengadopsian massal teknologi electroforming—yaitu proses pelapisan logam mulia menggunakan metode elektrokimia khusus di atas cetakan lilin yang nantinya dilelehkan. Rekayasa siber-fisik ini terbukti andal dalam menciptakan perhiasan berstruktur kokoh dan berongga di bagian dalam (hollow design), sehingga mampu memangkas volume penggunaan bahan baku emas secara drastis tanpa mengurangi kemewahan visual luar produk.

Langkah penguncian biaya produksi di koridor hilir ini berjalan simultan dengan persiapan penetrasi pasar menyambut tahun 2027 mendatang. Pembina UKM dan IKM Perhiasan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Wanto Tandya, mengidentifikasi bahwa bauran teknologi electroforming bertindak sebagai jangkar strategis untuk melindungi margin laba usaha para pengrajin lokal dari risiko penurunan daya beli konsumen kelas menengah.

"Mahalnya harga emas dunia menuntut ketepatan adaptasi rekayasa industri agar produk kita tetap kompetitif. Melalui pemanfaatan teknik electroforming, sekitar 300 pelaku UKM dan IKM perhiasan binaan kini mampu memproduksi cincin dan gelang dengan bobot yang sangat ekonomis, namun tetap memenuhi kualifikasi estetika pasar global yang saat ini sedang menggandrungi desain perhiasan berukuran besar," ungkap Wanto Tandya di sela pameran perhiasan internasional, Rabu (21/10).

Guna memperkokoh resiliensi pasar retail perhiasan nasional pada kuartal IV, bauran strategi niaga dalam negeri disinergikan melalui tiga pilar operasional terintegrasi:

• Integrasi Batu Permata Hasil Laboratorium (Lab-Grown): Mempersiapkan suplai varietas batu permata buatan berkualitas tinggi, termasuk safir biru, rubi merah delima, hingga rencana peluncuran jenis Light Brown Gemstone untuk menekan biaya komponen ornamen perhiasan.

• Otomatisasi Pewarnaan Enamel UV: Mengadopsi teknologi pelapisan warna berbasis semprotan kimia khusus dan pengeringan sinar ultraviolet (UV) untuk mempercepat rantai produksi sekaligus mengunci ketahanan pendaran warna logam.

• Standardisasi Transparansi Label Karakteristik: Menjamin kepatuhan informasi label produk secara rigid kepada konsumen mengenai perbedaan karakteristik fisik dan kimiawi antara permata laboratorium dengan batu tambang alam.

Sejumlah pengamat ekonomi kreatif menyambut positif langkah standardisasi digital dan efisiensi material pada industri kerajinan ini. Penurunan hambatan biaya bahan baku sejak dini dinilai tidak hanya andal dalam menyelamatkan retensi omzet penjualan komersial domestik, melainkan bertindak sebagai instrumen taktis untuk memangkas ketergantungan impor komponen perhiasan mentah, sekaligus memastikan kapasitas finansial industri kreatif akar rumput tetap bertumbuh tangguh dan mandiri melintasi berbagai generasi secara berkesinambungan.(arfi)


 

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar