Ekonomi & Bisnis

Angka Kemiskinan Jadi 8,07% dan Pengangguran Terendah di Era Prabowo-Gibran

  • Bella
  • Rabu, 21 Oktober 2026
  • menit membaca
  • 71x baca
Angka Kemiskinan Jadi 8,07% dan Pengangguran Terendah di Era Prabowo-Gibran

JAKARTA (21/10)  - Ekonom senior Ichsanuddin Noorsy mengakui adanya penurunan angka kemiskinan dan pengangguran selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.Hal tersebut disampaikan Noorsy dalam diskusi program Rakyat Bersuara di iNews, Minggu (19/10/2026). Dalam diskusi tersebut, Noorsy menyoroti perkembangan kondisi ekonomi Indonesia, khususnya terkait kesejahteraan masyarakat.

Menurut Noorsy, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren positif yang tidak bisa diabaikan. Pernyataan Noorsy sejalan dengan data resmi yang dirilis Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI. Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom, Kurnia Ramadhana, menyebut tingkat kemiskinan di Indonesia turun menjadi 8,07% pada Maret 2026, dengan jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 22,93 juta orang.

"Angka tersebut berkurang 920 ribu orang dibandingkan Maret 2025," ujar Kurnia seperti dikutip dari Antara, Minggu (18/10).

Selain kemiskinan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) juga mencatatkan angka terendah. Pada Februari 2025, TPT tercatat 4,76%, yang disebut sebagai level terendah sejak 1998 atau bahkan 30 tahun terakhir sejak 1995.

residen Prabowo dalam pernyataannya juga menyebut capaian ini sebagai hasil kerja keras bersama. "Tingkat kemiskinan nasional menurun menjadi 8,47 persen dan merupakan angka terendah sepanjang sejarah Indonesia. Tidak hanya itu, tingkat pengangguran terbuka juga turun menjadi 4,76 persen," ujar Prabowo.Noorsy menambahkan, penurunan ini didorong oleh beberapa program pemerintah seperti perlindungan sosial berbasis data terpadu, Bantuan Subsidi Upah (BSU) yang menjangkau 17 juta pekerja pada 2025, serta Program Magang Nasional bagi lulusan perguruan tinggi yang menargetkan 150.000 peserta pada 2026.Meski demikian, Noorsy mengingatkan agar pemerintah tidak cepat berpuas diri, karena kesenjangan antara kota dan desa masih terlihat. Tingkat kemiskinan perkotaan tercatat 6,34 persen, sedangkan di perdesaan masih 10,67 persen. 

(Bll)

 

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar