Teknologi

Urai Kabut Asap Karhutla, BMKG Sukses Pancing Hujan di Sumatra-Kalimantan Lewat OMC Gabungan

  • Arfi
  • Kamis, 22 Oktober 2026
  • menit membaca
  • 28x baca
Urai Kabut Asap Karhutla, BMKG Sukses Pancing Hujan di Sumatra-Kalimantan Lewat OMC Gabungan

JAKARTA,RADAR GARUDA,(22/10). — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan keberhasilan pemanfaatan kombinasi teknologi modifikasi cuaca mutakhir untuk mengatasi bencana polusi udara antardaerah. Melalui bauran rekayasa sains atmosfer terintegrasi, hujan dengan intensitas tinggi dilaporkan resmi mengguyur bentangan wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan.

Langkah tanggap darurat yang diluncurkan pada kuartal IV tahun anggaran berjalan ini mengombinasikan metode penyemaian es kering (dry ice) dan natrium klorida (NaCl/garam) secara simultan di udara. Jalannya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terpadu tersebut terbukti andal dalam memicu pembentukan awan hujan buatan secara instan di wilayah Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengidentifikasi bahwa inovasi penggunaan dry ice bertindak sebagai instrumen vital pembongkar hambatan konveksi vertikal. Selaras dengan penjelasannya, selama masa kemarau panjang, kepekatan kabut asap karhutla kerap terperangkap di bawah lapisan inversi atmosfer pada ketinggian 6.000 hingga 7.000 kaki, sehingga menghalangi radiasi matahari memicu penguapan alami.

"Penyebaran dry ice dari pesawat berfungsi menurunkan suhu udara secara ekstrem di atas lapisan inversi guna membuka kembali aliran udara vertikal yang buntu. Setelah aliran inversi atmosfer berhasil dibongkar dalam hitungan milidetik, uap air bergerak naik membentuk awan potensial, yang langsung disemai kembali menggunakan garam NaCl untuk mempercepat proses kondensasi hingga hujan lebat turun mengguyur titik-titik api (hotspot)," ungkap Teuku Faisal Fathani di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/10).

Guna menstabilkan akuntabilitas penanggulangan dampak lingkungan harian, jalannya OMC makro ini bersandar pada tiga pilar operasional lintas instansi :

• Sinkronisasi Manifes Penerbangan Taktis: Berkolaborasi bersama TNI, Kementerian Pertahanan, dan BRIN untuk mengerahkan armada pesawat penabur berkecepatan tinggi secara berkala di atas koordinat kebakaran.

• Otomatisasi Analitik Kualitas Udara: Memanfaatkan stasiun pemantau BMKG untuk mengevaluasi pemulihan jarak pandang (visibility) serta mengukur penurunan konsentrasi partikel polutan PM2.5 secara real-time.

• Kemitraan Pemadanam Darat Terpadu: Menyinkronkan jatuhnya hujan buatan dengan operasi pemadaman fisik di jalur darat oleh BNPB, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, serta sukarelawan daerah.

Kendati demikian, otoritas mencatat bahwa efisiensi intervensi udara ini tetap menghadapi kendala teknis sporadis akibat ketaatan pada regulasi keselamatan aviasi. Di beberapa pangkalan udara tapak hulu seperti Lanud Sri Mulyono Herlambang Palembang, pekatnya bauran kabut asap harian sempat menahan laju terbang pesawat penyemai akibat jarak pandang harian yang sempat merosot drastis di bawah ambang batas kelaikan penerbangan (flight visibility).

Melalui konsistensi perlindungan data meteorologi dan ketepatan mitigasi modifikasi cuaca terpadu ini, aliansi lembaga pemerintah optimistis mampu memutus rantai polusi asap lintas kawasan secara tuntas. Pemulihan hak ekologis udara bersih ini diharapkan tidak hanya andal dalam melindungi kesehatan pernapasan publik, melainkan mengunci kedaulatan operasional jalur logistik transportasi udara nasional agar tetap berjalan tangguh melintasi gejolak perubahan iklim global secara berkesinambungan.(arfi)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar