Daerah

Berani Lawan Mafia Sawit, Bupati Anisa Cabut Bibit Sawit Ilegal di Bekas Karhutla Dharmasraya

  • Bella
  • Kamis, 22 Oktober 2026
  • menit membaca
  • 50x baca
Berani Lawan Mafia Sawit, Bupati Anisa Cabut Bibit Sawit Ilegal di Bekas Karhutla Dharmasraya

DHARMASRAYA, SUMBAR (22/10) - Aksi tegas Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani menjadi sorotan. Ia memerintahkan pencabutan puluhan bibit kelapa sawit ilegal yang ditanam di lahan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT).

Temuan mengejutkan itu terungkap saat Annisa melakukan sidak langsung ke Bukit Lantak, Nagari Tabek, Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, Jumat (16/10/2026), bersama Kapolres Dharmasraya AKBP Kartyana Widyarso Wardoyo Putro dan Forkopimda.Di lokasi seluas 5,9 hektare yang terbakar pada 15 Agustus 2026 lalu, rombongan justru menemukan bibit sawit yang baru berusia sekitar dua minggu sudah ditanam rapi.

"Sudah ada bibit sawit, Pak Kapolres. Membakar, apalagi di kawasan hutan. Gimana, siapa yang nanam ini, Pak Kapolres?" tanya Annisa di lokasi seperti terekam video viral.

Tanpa ragu, Bupati termuda di Sumbar itu langsung memerintahkan pencabutan."Kapan kebakaran hutan ini? 15 Agustus, udah ada sawit yang ditanam sekarang. Langsung tumbuh lagi, cabut ya, ganti sama tanaman hutan," tegasnya.

Menurut Annisa, penanaman sawit di kawasan HPT jelas melanggar hukum. Modusnya diduga dengan cara membakar hutan terlebih dahulu lalu mengklaim lahan untuk perkebunan sawit ilegal.Sebagai tindak lanjut, Polres Dharmasraya langsung memasang garis polisi (police line) dan Pemkab memasang plang larangan keras mengolah, menanam, atau berkebun di area tersebut. Pihak kepolisian kini diminta mengusut tuntas oknum pembakar dan penanam sawit.

Lahan bekas karhutla tersebut selanjutnya akan direstorasi dengan ditanami kembali pohon pelindung dan tanaman hutan buah-buahan.

"Cabut semua sawit segera dan ganti dengan tanaman hutan. Lahan ini harus kembali menjadi paru-paru masyarakat, bukan perkebunan sawit ilegal," tegas Annisa.

Langkah berani ini diapresiasi warganet, karena tak banyak kepala daerah yang berani berhadapan langsung dengan praktik perambahan hutan berkedok sawit.

(Bll)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar