Jakarta,Radar Garuda (22/10)-Pemerintah memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026, meski harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah tengah menghitung dampak kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) terhadap kebutuhan subsidi energi dalam APBN.
"Yang sekarang kita lagi memperhitungkan adalah harga ICP global yang naik terus. Karena begitu harga ICP global naik terus, itu kemungkinan besar akan menambah top up subsidi. Tetapi pemerintah berkomitmen untuk tidak ada kenaikan BBM subsidi, tidak ada kenaikan," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026), seperti dilansir Antara.
Bahlil menjelaskan, harga ICP saat ini berada di kisaran 92 dolar AS per barel. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi harga minyak yang digunakan dalam APBN, yakni sekitar 70 dolar AS per barel.
Pemerintah memperkirakan harga minyak mentah masih berpotensi berada di bawah 100 dolar AS per barel apabila tren saat ini berlanjut. Meski demikian, kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan kebutuhan anggaran untuk menanggung subsidi energi.
Dengan tambahan anggaran tersebut, pemerintah berharap harga BBM bersubsidi tetap terjaga sehingga masyarakat tidak perlu menanggung kenaikan harga akibat tekanan pasar minyak global.
"Jadi relatif oke. Untuk BBM subsidi Insya-Allah tidak ada kenaikan ya," ujar Bahlil.
Pemerintah memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026, meski harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah tengah menghitung dampak kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) terhadap kebutuhan subsidi energi dalam APBN.
"Yang sekarang kita lagi memperhitungkan adalah harga ICP global yang naik terus. Karena begitu harga ICP global naik terus, itu kemungkinan besar akan menambah top up subsidi. Tetapi pemerintah berkomitmen untuk tidak ada kenaikan BBM subsidi, tidak ada kenaikan," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026), seperti dilansir Antara.
Bahlil menjelaskan, harga ICP saat ini berada di kisaran 92 dolar AS per barel. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi harga minyak yang digunakan dalam APBN, yakni sekitar 70 dolar AS per barel.
Pemerintah memperkirakan harga minyak mentah masih berpotensi berada di bawah 100 dolar AS per barel apabila tren saat ini berlanjut. Meski demikian, kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan kebutuhan anggaran untuk menanggung subsidi energi.
Dengan tambahan anggaran tersebut, pemerintah berharap harga BBM bersubsidi tetap terjaga sehingga masyarakat tidak perlu menanggung kenaikan harga akibat tekanan pasar minyak global.
"Jadi relatif oke. Untuk BBM subsidi Insya-Allah tidak ada kenaikan ya," ujar Bahlil.
Pernyataan itu disampaikan seusai Bahlil mengikuti Sidang Kabinet Paripurna guna untuk mengevaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
(veve)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar