PARIS (26/10) - Prancis kembali rusuh. Aksi demonstrasi besar-besaran memprotes kenaikan biaya hidup dan krisis pendidikan di Paris berujung bentrokan brutal antara massa dan polisi, Sabtu (24/10/2026).Aksi yang awalnya berlangsung damai, berubah ricuh di penghujung rute. Sekelompok massa bertopeng di barisan belakang mulai melemparkan petasan, mortir, bom molotov, dan bebola logam ke arah barisan polisi.
Petasan dibalas pukulan.
Aparat yang sudah siaga dengan 70.000 personel di seluruh Prancis langsung merespons dengan gas air mata, granat kejut, meriam air, dan pentungan. Video yang beredar memperlihatkan polisi menyerbu kerumunan dan memukuli demonstran.
"Polisi mulai bergerak ke arah semua orang, menyuruh mereka tiarap dan mundur. Mereka langsung menjatuhkan orang-orang, memukuli para demonstran," kata David, seorang demonstran yang wajahnya berdarah akibat pukulan tongkat polisi kepada AFP.
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat, sekitar 410.000 orang turun ke jalan di seluruh negeri, dengan 110.000 orang terpusat di Paris. Sementara serikat pekerja CGT yang mengorganisir aksi mengklaim massa mencapai 800.000 orang.Akibat kerusuhan ini, hampir 1.000 orang ditangkap, 53 petugas terluka, 24 toko dijarah dan 75 titik kebakaran terjadi. Dua demonstran mengalami luka serius, salah satunya di Toulouse kehilangan beberapa jarinya akibat ledakan petasan.Pemerintah Macron sebelumnya sudah melarang demonstran masuk ke pusat kota Paris, menutup Louvre dan Musée d'Orsay, dan memerintahkan toko-toko memasang papan kayu untuk antisipasi penjarahan. Jam malam juga diberlakukan di beberapa kota.Ini adalah gelombang protes pekan kedua. Pekan lalu, kerusuhan bahkan lebih parah dengan 2.700 orang ditangkap dan kerugian ratusan juta Euro.Pemerintah menyebut protes dipicu isu kekurangan guru dan mahalnya biaya hidup, sementara mahasiswa menuntut 250.000 kursi tambahan di perguruan tinggi dan penghapusan sistem seleksi Parcoursup.
(Bll)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar