BOGOR, RADAR GARUDA (28/10) - Fasilitas eskalator di skybridge Stasiun Bojong Gede, Kabupaten Bogor, dikeluhkan mati hampir setahun tanpa perbaikan. Padahal stasiun ini melayani rata-rata 31.162 penumpang per hari.Berdasarkan pantauan dan keterangan petugas di lokasi, Selasa (13/10/2026), dua eskalator di sisi dekat peron tidak berfungsi. Eskalator pertama dilaporkan mati sejak Januari 2026 atau sudah hampir 10 bulan. Eskalator kedua baru mati sejak awal Oktober 2026 lalu.
Akibatnya, penumpang KRL yang ingin menuju skybridge penghubung ke Terminal Bojong Gede maupun turun ke peron harus memutar lewat jalur difabel. Waktu tempuh jadi lebih lama hingga 6 kali putaran.
"Ya jadi lama lah. Kita kalau misalkan mau kerja, mau ngejar waktu, lama kan dia muter-muter," keluh Nana (40), pengguna KRL rutin Bojong Gede. Nana menyebut kerusakan ini sudah sering terjadi sejak skybridge baru dibangun."Dari awal baru jadi ya, belum lama. Kayaknya pas setahun juga udah lebih sering rusaknya. Saya nggak tahu barangnya nggak bagus dari awal, atau maintenance-nya," ujarnya.
Protes Pakai Karangan Bunga:
Kekesalan warga memuncak hingga muncul aksi protes unik. Sejumlah pengguna KRL yang tergabung dalam komunitas #WargaBersuara mengirim karangan bunga duka cita ke lokasi eskalator mati sebagai bentuk sindiran.
"Bunga-bunga itu disampaikan atas inisiatif pengguna yang sudah resah sekali karena bersuara sendiri sama sekali tidak ada feedback dari petugas," kata Fika, salah satu pengguna.
Selain eskalator mati, warga juga mengeluhkan tangga yang boncel-boncel dan membahayakan.
Saling Lempar Tanggung Jawab:
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan pengelolaan eskalator skybridge arah terminal adalah kewenangan Pemerintah Kabupaten Bogor.
"Dapat kami sampaikan bahwa pengelolaan atas eskalator pada skybridge penghubung ke arah terminal adalah oleh Pemkab Bogor, koordinasi telah kami lakukan dengan pihak Pemkab terkait kebutuhan untuk dapat dilakukan perbaikan," kata Karina saat dikonfirmasi, Selasa (25/10).Pihak KAI Commuter hanya bisa meneruskan laporan. Sementara warga terus menunggu kepastian perbaikan hampir setahun tanpa kejelasan.
(Bll)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar