Ekonomi & Bisnis

Amran Dorong Hilirisasi Singkong dan Perluasan Ekspor, Harga Petani Jadi Sorotan

  • Arfi
  • Kamis, 29 Oktober 2026
  • menit membaca
  • 15x baca
Amran Dorong Hilirisasi Singkong dan Perluasan Ekspor, Harga Petani Jadi Sorotan

JAKARTA, RADAR GARUDA (29/10). — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong penguatan industri pengolahan singkong dan perluasan pasar ekspor sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian dalam negeri. Langkah tersebut mengemuka di tengah perhatian terhadap kenaikan harga singkong di tingkat petani dan keluhan mengenai mahalnya harga tepung tapioka di pasar.

Pemerintah menilai pengembangan pasar produk olahan singkong dapat membuka peluang ekonomi baru bagi petani sekaligus memperkuat industri berbasis bahan baku lokal. Salah satu produk yang disiapkan untuk memperluas pasar internasional adalah mocaf atau *modified cassava flour*, yakni tepung singkong yang diproses melalui fermentasi untuk menghasilkan karakteristik berbeda dari tepung singkong biasa.

Dalam perkembangan terbaru, harga singkong di tingkat petani dilaporkan meningkat dari sekitar Rp700 menjadi Rp3.000 per kilogram. Kenaikan tersebut disebut sebagai perkembangan positif setelah pemerintah mengambil kebijakan penghentian impor singkong. Meski demikian, keberlanjutan harga yang menguntungkan petani tetap bergantung pada kemampuan pasar menyerap hasil panen dan kebutuhan bahan baku industri pengolahan.

Amran mendorong agar singkong tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah, tetapi juga dikembangkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional. Strategi ini diharapkan memperluas peluang usaha bagi pelaku industri pengolahan sekaligus menciptakan permintaan yang lebih stabil terhadap hasil pertanian masyarakat.

Pengembangan ekspor mocaf menjadi salah satu langkah yang tengah dipersiapkan pemerintah. Namun, pelaksanaannya membutuhkan kesiapan produksi, konsistensi mutu, kepastian pasokan bahan baku, serta pemenuhan standar yang ditetapkan negara tujuan. Kepastian pasar juga penting agar peningkatan kapasitas produksi dapat diikuti permintaan yang berkelanjutan.

Harga Singkong dan Tapioka Memiliki Dinamika Berbeda

Di tengah rencana perluasan ekspor, persoalan harga tepung tapioka perlu dilihat secara terpisah dari harga singkong di tingkat petani. Singkong merupakan bahan baku utama, sedangkan tapioka adalah produk pati yang dihasilkan melalui proses pengolahan. Karena itu, perubahan harga bahan baku tidak selalu langsung diikuti perubahan harga produk akhir dengan besaran yang sama.

Harga tapioka di pasar turut dipengaruhi biaya pengolahan, kebutuhan energi dan air, transportasi, kapasitas produksi pabrik, serta kondisi permintaan dari sektor industri. Persaingan dengan produk impor juga dapat memengaruhi keputusan pembelian dan daya saing produsen dalam negeri.

Kondisi tersebut menempatkan pemerintah pada tantangan untuk menjaga keseimbangan kepentingan petani, industri pengolahan, dan konsumen. Harga singkong yang memadai dibutuhkan agar petani memperoleh pendapatan yang layak, sementara harga produk olahan harus tetap kompetitif supaya industri dapat mempertahankan penjualan dan memenuhi kebutuhan pasar.

Karena itu, kebijakan perlindungan petani perlu diiringi peningkatan efisiensi industri, perbaikan kualitas bahan baku, dan penguatan kemitraan antara petani dengan pabrik pengolahan. Dengan hubungan usaha yang lebih terencana, penyerapan hasil panen diharapkan menjadi lebih konsisten dan gejolak harga dapat ditekan.

Ekspor Tapioka Membuka Peluang Pasar

Indonesia juga memiliki pengalaman memasuki pasar internasional melalui ekspor tapioka, khususnya dari Lampung yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi singkong. Produk tapioka dari wilayah tersebut telah dipasarkan ke sejumlah negara, termasuk Malaysia, Selandia Baru, dan Tiongkok.

Pengalaman tersebut menunjukkan adanya peluang bagi produk berbasis singkong Indonesia untuk menjangkau konsumen luar negeri. Meski demikian, perluasan ekspor memerlukan kemampuan memenuhi volume pesanan, menjaga kualitas produk, serta mempertahankan kontinuitas pengiriman sesuai permintaan pembeli.

Pengembangan mocaf dan ekspor tapioka juga perlu ditempatkan sesuai karakteristik masing-masing produk. Mocaf memiliki proses pengolahan dan sifat penggunaan yang berbeda dari pati tapioka sehingga sasaran pasar, spesifikasi produk, dan kebutuhan industri penggunanya tidak sepenuhnya sama.

Diversifikasi produk diharapkan dapat memperluas pilihan pasar bagi industri singkong nasional. Dengan tidak hanya bergantung pada penjualan bahan baku atau satu jenis produk, pelaku usaha berpeluang meningkatkan nilai ekonomi hasil panen dan mengembangkan segmen pasar yang lebih beragam.

Perlu Pengawasan Pasokan dan Keterjangkauan Harga

Di sisi konsumen, kenaikan harga tapioka perlu dicermati melalui pemantauan harga di tingkat produsen, distributor, dan pengecer. Data tersebut dibutuhkan untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap harga jual, apakah berasal dari biaya bahan baku, proses produksi, distribusi, atau ketidakseimbangan pasokan dan permintaan.

Pemerintah juga perlu memastikan kebijakan perdagangan dan pengembangan ekspor berjalan seiring dengan kecukupan pasokan dalam negeri. Perluasan pasar luar negeri dapat memberikan manfaat ekonomi, tetapi perencanaannya harus mempertimbangkan kebutuhan industri domestik serta kapasitas produksi yang tersedia.

Selain itu, peningkatan produktivitas lahan, penggunaan bibit berkualitas, perbaikan teknik budidaya, dan penguatan infrastruktur pengolahan dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Langkah tersebut diperlukan agar peningkatan permintaan tidak hanya mendorong perubahan harga, tetapi juga diikuti pertumbuhan produksi dan efisiensi usaha.

Pada akhirnya, pengembangan singkong nasional membutuhkan kebijakan yang mampu menghubungkan kepentingan petani, industri, perdagangan, dan konsumen. Perluasan ekspor dapat menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah, sedangkan pengawasan harga dan pasokan tetap diperlukan untuk menjaga keseimbangan pasar.

Melalui hilirisasi yang terencana, peningkatan daya saing produk, serta kemitraan yang berkelanjutan, singkong berpotensi memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi daerah sentra produksi. Tantangan pemerintah selanjutnya adalah memastikan pertumbuhan pasar dan industri pengolahan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani serta keterjangkauan produk bagi masyarakat.(arfi)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar