JAKARTA — RADAR GARUDA, (12/10). Langkah konkret menuju swasembada energi nasional mulai memberikan kontribusi signifikan bagi penguatan struktur moneter dalam negeri. Ekosistem hilirisasi singkong menjadi bahan bakar nabati (bioetanol) yang dikembangkan secara masif diproyeksikan mampu menyelamatkan cadangan devisa negara dari ketergantungan impor minyak mentah global sebesar Rp93 triliun secara berkelanjutan.
Lompatan besar dalam ketahanan energi ini dicapai melalui pemanfaatan komoditas singkong lokal sebagai bahan baku utama (feedstock) penyulingan energi bersih. Otoritas pangan dan energi memilih singkong karena memiliki keunggulan rantai pasok yang tidak berebut dengan industri pangan komersial (seperti gula dan kecap) serta memiliki tingkat produktivitas tinggi di lahan mineral.
Untuk mengunci keberlanjutan pasokan energi hilir, telah resmi bertindak sebagai pembeli siaga (off-taker) komersial yang akan menyerap pasokan bioetanol secara berkala untuk mendukung mandatori pencampuran bensin E20 nasional . Proyeksi total kapasitas produksi dari megaproyek terintegrasi ini ditargetkan mampu menyuplai hingga 5 juta kiloliter bioetanol per tahun.
"Bisnis energi bersih ini didesain tanpa membebani keuangan APBN, melainkan murni mengandalkan kekuatan pendanaan perbankan karena memiliki nilai keekonomian yang sangat tinggi," ungkap Direktur Utama Agrinas, Mohammad Abdul Ghani, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (12/10).
Berdasarkan cetak biru (blueprint) pengembangan korporasi, dampak ekonomi makro dari industrialisasi ubi kayu ini ditopang oleh tiga pilar struktural utama:
* Pemberdayaan Lapangan Kerja Masif: Menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan baru dengan menyerap lebih dari 1,1 juta tenaga kerja lokal di sektor hulu perkebunan hingga hilir manufaktur.
* Efisiensi Biaya Pokok Produksi: Mengadopsi model manajemen terintegrasi (single management) di atas lahan mineral 1 juta hektare, sehingga harga pokok produksi (HPP) ubi kayu dapat ditekan stabil di level Rp704 per kilogram.
* Daya Saing Harga Kompetitif: Mengunci biaya manufaktur penyulingan bioetanol murni di kisaran Rp6.300 hingga Rp8.000 per liter (sudah termasuk beban bunga bank), berada jauh di bawah harga acuan pembelian pemerintah sebesar Rp10.800 per liter.
Kelayakan finansial dari hilirisasi tiga komoditas utama (singkong, jagung, dan sorgum) ini dinilai sangat prospektif oleh lembaga keuangan domestik, karena mencatatkan nilai pengembalian modal atau Internal Rate of Return (IRR) yang konsisten berada di atas 15 persen.
Hingga kuartal berjalan berjalan, performa laporan keuangan internal mencatatkan lompatan pertumbuhan tertinggi dengan raihan pendapatan mencapai Rp3,55 triliun serta perolehan laba bersih sebesar Rp1,63 triliun [c]. Sinergi tanpa sekat antara petani daerah, korporasi perkebunan, dan ini diharapkan mampu mengeliminasi defisit neraca perdagangan migas secara permanen, sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi nasional di kancah global.(arfi)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar