PRANCIS, Radar Garuda – (17/10) Demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah kota di Prancis dilaporkan berujung ricuh. Aksi yang melibatkan mahasiswa, serikat pekerja, petani, dan kelompok rompi kuning tersebut diwarnai perusakan fasilitas umum hingga bentrokan dengan aparat kepolisian.
Para demonstran turun ke jalan untuk menyuarakan protes terhadap tekanan ekonomi dan persoalan pelayanan publik. Namun, aksi tersebut dilaporkan berkembang menjadi kerusuhan di sejumlah wilayah, termasuk Paris, Lyon, Marseille, Lille, Grenoble, dan Avignon.
Dalam aksi tersebut, sejumlah demonstran meneriakkan slogan yang merujuk pada eksekusi Raja Louis XVI selama Revolusi Prancis. Mereka meneriakkan ancaman serupa terhadap Presiden Emmanuel Macron sebagai bentuk kemarahan terhadap pemerintah.
Di Lyon, sebuah kantor layanan wisata di Place Bellecour dilaporkan dijarah dan dibakar. Petugas pemadam kebakaran disebut mengalami hambatan saat berusaha mencapai lokasi kebakaran, sementara polisi menggunakan gas air mata untuk mengendalikan massa.
Kericuhan juga terjadi di Marseille. Puluhan demonstran dilaporkan menerobos masuk ke balai kota, merusak perabotan, dan menjatuhkan patung Marianne yang merupakan simbol Republik Prancis. Kantor polisi dan sejumlah toko juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Wali Kota Marseille Benoît Payan menggambarkan situasi tersebut sebagai tidak terkendali dan meminta penambahan personel kepolisian untuk mengatasi kerusuhan.
Sementara itu, di Lille, demonstran dilaporkan memasuki balai kota dan menjarah sebagian bangunan. Kerusakan juga terjadi di balai kota Grenoble, sedangkan di Avignon, massa memasuki halaman kantor pemerintahan Vaucluse.
Di Paris, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstran di Place de la République. Sejumlah kendaraan dan sebuah kios koran dilaporkan terbakar. Aksi unjuk rasa yang tidak mendapat izin juga disebut mendekati Istana Élysée sebelum akhirnya dibubarkan aparat.
Pada pukul 15.00 waktu setempat, Kementerian Dalam Negeri Prancis dilaporkan mencatat 272 orang ditangkap di seluruh negeri. Sebanyak 163 orang di antaranya ditangkap di Paris.
Kerusuhan tersebut juga disebut berkaitan dengan rangkaian demonstrasi pelajar yang berlangsung selama beberapa minggu sebelumnya. Aksi itu menyoroti persoalan pendanaan sekolah dan dilaporkan berujung pada penangkapan hampir 7.000 orang, sebagian besar di antaranya merupakan anak di bawah umur.. (andif)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar