JAKARTA, RADAR GARUDA (24/10) – Penderita diabetes melitus perlu mewaspadai risiko kerusakan ginjal atau nefropati diabetik, salah satu komplikasi yang dapat berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala jelas pada tahap awal. Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan ginjal menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah apabila tidak terdeteksi serta ditangani dengan tepat.
Nefropati diabetik merupakan komplikasi diabetes yang berkaitan dengan kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang. Kondisi tersebut dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal sehingga fungsi penyaringan darah menurun secara bertahap.
Risiko kerusakan ginjal dapat meningkat pada penderita diabetes yang kadar gula darahnya tidak terkontrol. Tekanan darah tinggi juga menjadi faktor yang dapat memperburuk kondisi ginjal, terutama apabila berlangsung dalam waktu lama.
Masalahnya, gangguan ginjal akibat diabetes sering kali tidak menunjukkan tanda yang mudah dikenali pada fase awal. Karena itu, penderita diabetes dianjurkan tidak hanya memantau kadar gula darah, tetapi juga menjalani pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala.
11 Gejala Nefropati Diabetik yang Perlu Dikenali
Sejumlah tanda dapat muncul ketika fungsi ginjal mulai terganggu. Meski demikian, gejala berikut tidak selalu menandakan nefropati diabetik karena dapat disebabkan oleh kondisi kesehatan lainnya.
1. Urine Berbusa
Urine yang tampak berbusa secara berulang dapat menjadi salah satu tanda adanya protein dalam urine. Kondisi ini dapat terjadi ketika penyaringan ginjal mengalami gangguan sehingga protein yang seharusnya dipertahankan di dalam darah ikut keluar bersama urine.
Namun, urine berbusa tidak selalu menandakan kerusakan ginjal. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kebocoran protein.
2. Pembengkakan pada Kaki dan Pergelangan Kaki
Gangguan fungsi ginjal dapat menyebabkan tubuh menahan kelebihan cairan. Akibatnya, pembengkakan bisa muncul pada kaki, pergelangan kaki, atau bagian tubuh lainnya.
Pembengkakan yang berlangsung terus-menerus perlu diperiksakan, terlebih jika disertai keluhan lain seperti sesak napas atau perubahan jumlah urine.
3. Pembengkakan pada Wajah atau Tangan
Penumpukan cairan juga dapat menyebabkan wajah terlihat lebih sembap, terutama pada area sekitar mata, atau membuat tangan mengalami pembengkakan.
Gejala tersebut bukan tanda khusus penyakit ginjal, tetapi patut mendapat perhatian apabila muncul berulang atau disertai perubahan kondisi kesehatan lainnya.
4. Tubuh Mudah Lelah dan Lemas
Penderita gangguan ginjal dapat mengalami kelelahan yang tidak biasa. Pada penyakit ginjal kronis, kondisi ini dapat berkaitan dengan anemia, penumpukan zat sisa metabolisme, atau gangguan kesehatan lain yang menyertai.
Apabila rasa lelah berlangsung terus-menerus meskipun sudah cukup beristirahat, pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebabnya.
5. Nafsu Makan Menurun
Penurunan nafsu makan dapat terjadi pada penyakit ginjal yang sudah berkembang. Perubahan metabolisme dan penumpukan zat sisa dalam darah dapat memengaruhi kondisi tubuh serta keinginan untuk makan.
Gejala ini perlu diperhatikan apabila disertai penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas atau keluhan kesehatan lainnya.
6. Mual dan Muntah
Mual dan muntah dapat muncul ketika fungsi ginjal menurun secara signifikan sehingga zat sisa metabolisme menumpuk dalam tubuh.
Meski demikian, keluhan tersebut juga dapat disebabkan oleh gangguan pencernaan, infeksi, efek obat, maupun penyakit lain. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
7. Kulit Kering dan Gatal
Pada sebagian penderita penyakit ginjal kronis, kulit dapat terasa kering dan gatal. Keluhan ini dapat berkaitan dengan perubahan keseimbangan mineral serta penumpukan zat tertentu dalam tubuh.
Gatal yang menetap, terutama jika mengganggu tidur atau aktivitas sehari-hari, sebaiknya dikonsultasikan kepada tenaga medis.
8. Kram Otot
Kram otot dapat terjadi pada penderita gangguan ginjal, antara lain akibat perubahan keseimbangan elektrolit, gangguan metabolisme, atau faktor lain yang menyertai penyakit.
Kram yang berulang tidak boleh langsung dianggap sebagai tanda kerusakan ginjal. Pemeriksaan dibutuhkan untuk mengetahui penyebabnya.
9. Gangguan Tidur
Sebagian penderita penyakit ginjal kronis mengalami kesulitan tidur, baik karena rasa tidak nyaman, gatal, kram otot, maupun kondisi kesehatan lain.
Gangguan tidur bukan gejala khusus nefropati diabetik. Namun, keluhan yang menetap perlu dievaluasi, terutama pada orang yang memiliki diabetes dan faktor risiko penyakit ginjal.
10. Kesulitan Berkonsentrasi
Penurunan fungsi ginjal yang berat dapat menyebabkan penumpukan zat sisa metabolisme dan memengaruhi kondisi fisik maupun kemampuan berpikir.
Kesulitan berkonsentrasi juga dapat dipengaruhi oleh kurang tidur, perubahan kadar gula darah, anemia, atau masalah kesehatan lainnya. Apabila terjadi secara berulang, penderita diabetes sebaiknya menjalani pemeriksaan.
11. Perubahan Frekuensi Buang Air Kecil
Perubahan pola buang air kecil dapat terjadi pada berbagai gangguan kesehatan. Pada penderita diabetes, frekuensi buang air kecil yang meningkat juga dapat berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi.
Pada tahap lanjut penyakit ginjal, jumlah urine dapat berkurang. Namun, tidak semua penderita nefropati diabetik mengalami perubahan tersebut. Karena itu, kondisi ginjal tidak dapat dinilai hanya berdasarkan frekuensi buang air kecil.
Pemeriksaan Ginjal Penting Meski Tanpa Gejala
Munculnya gejala bukan satu-satunya dasar untuk mengetahui adanya kerusakan ginjal. Nefropati diabetik dapat berkembang tanpa keluhan yang nyata, sehingga pemeriksaan rutin menjadi bagian penting dalam perawatan penderita diabetes.
Dua pemeriksaan yang umum digunakan untuk menilai kesehatan ginjal adalah rasio albumin-kreatinin urine atau urine albumin-to-creatinine ratio (UACR) dan estimasi laju filtrasi glomerulus atau estimated glomerular filtration rate (eGFR).
Pemeriksaan UACR digunakan untuk mendeteksi albumin, yaitu salah satu jenis protein, yang keluar melalui urine. Sementara itu, eGFR diperkirakan melalui pemeriksaan darah, terutama kadar kreatinin, untuk menilai kemampuan ginjal menyaring darah.
Hasil pemeriksaan perlu dinilai oleh tenaga medis dengan mempertimbangkan kondisi pasien dan, jika diperlukan, pemeriksaan berulang. Satu hasil abnormal belum tentu cukup untuk memastikan penyakit ginjal kronis.
Penderita diabetes perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai jadwal pemeriksaan yang sesuai. Pemantauan umumnya menjadi sangat penting pada penderita diabetes tipe 2 sejak diagnosis serta pada penderita diabetes tipe 1 setelah beberapa tahun mengalami penyakit, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi klinis.
Pengendalian Gula Darah dan Tekanan Darah
Upaya mengurangi risiko kerusakan ginjal dimulai dengan mengendalikan kadar gula darah dan tekanan darah sesuai target yang ditetapkan dokter. Pengelolaan diabetes juga mencakup pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, menjaga berat badan, serta tidak merokok.
Dokter dapat mempertimbangkan obat-obatan tertentu yang terbukti membantu melindungi ginjal pada pasien yang memenuhi indikasi. Pemilihan pengobatan harus disesuaikan dengan kondisi pasien, hasil pemeriksaan, dan penyakit penyerta.
Penderita diabetes sebaiknya tidak menghentikan obat yang diresepkan atau mengonsumsi obat maupun suplemen tanpa berkonsultasi terlebih dahulu. Beberapa obat pereda nyeri, khususnya golongan antiinflamasi nonsteroid (NSAID), berpotensi memperburuk fungsi ginjal pada kondisi tertentu.
Pola makan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien. Pembatasan protein, kalium, fosfor, atau cairan tidak selalu diperlukan pada semua penderita diabetes dan sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil evaluasi tenaga kesehatan.
Waspadai Gejala Berat dan Jangan Menunda Pemeriksaan
Penderita diabetes yang mengalami pembengkakan baru atau semakin berat, perubahan jumlah urine yang nyata, maupun kelelahan berkepanjangan perlu segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Sementara itu, sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan mendadak, atau penurunan kesadaran memerlukan pertolongan medis segera.
Mengenali gejala nefropati diabetik merupakan langkah awal untuk meningkatkan kewaspadaan, tetapi pencegahan komplikasi tidak cukup hanya dengan menunggu tanda-tanda muncul. Pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala dan pengendalian diabetes yang konsisten menjadi langkah penting untuk membantu mempertahankan kesehatan ginjal dalam jangka panjang.
Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, perkembangan penyakit ginjal pada penderita diabetes dapat dipantau dan, dalam banyak kasus, risikonya dapat dikurangi.(arfi)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar