AMERIKA (14/10) - Baru kemarin, Minggu 12 Oktober 2026, Presiden AS Donald Trump bilang dia lagi mempertimbangkan untuk ikut perang bantu Arab Saudi lawan Houthi Yaman.
Pemicunya:
Houthi nembak Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pakai rudal/balistik drone pada Sabtu (11/10).Korban tewas 12 orang (4 warga Saudi, 2 Bangladesh, 1 Amerika, 1 Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, Mesir) dan 309 luka-luka. Ini serangan fatal kedua setelah Kamis (9/10) yang tewaskan 3 orang termasuk pilot.Bandara sempat ditutup, penerbangan Teluk dialihkan.
Trump bilang di depan Gedung Putih:
"Kami mungkin saja melakukannya. Kami akan meninjaunya. Kami baru saja mengetahui serangan itu. Kami bertindak sangat cepat."
Posisi Saudi:
Saudi sudah minta bantuan darurat ke AS. Dua pejabat senior Saudi bilang ke media MS NOW, mereka butuh intervensi "sesegera mungkin" untuk koalisi di Yaman. Saudi juga sudah minta bantuan ke Prancis, Inggris, Pakistan, Mesir untuk pertahanan udara karena stok rudal pencegat menipis.
Posisi AS - Masih tarik ulur:
. Bulan lalu AS sempat TOLAK bantu serangan udara langsung. Alasannya fokus ke Iran. AS cuma kirim 100+ penasihat militer untuk bantu rencanain kampanye.
. Sekarang setelah bandara diserang, Trump berubah pikiran dan pertimbangkan ikut.Tapi sampai hari ini, AS belum mau serang langsung.
. Masih bantuan intelijen dan targeting aja.
Balasan Houthi:
Houthi kasih ultimatum keras ke AS lewat biro politiknya Mohammed Al Bukhaiti:
"Jangan ikut campur, kalau AS ikut nyerang Yaman, kami akan balas dan sasar kepentingan AS di kawasan!"
Bonus: Israel juga sempat tawar bantuan militer ke Saudi lawan Houthi lewat perantara AS, tapi ditolak Pangeran MBS. Alasannya, kerja sama sama Israel bakal bikin rakyat Saudi marah. (Bl)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar