Jakarta,Radar Garuda (26/10)-Indonesia mulai mengurangi ekspor gas alam ke Singapura pada Sabtu (24/10/2026), yang mendorong Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong angkat bicara.Menjawab pertanyaan CNA, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Indonesia menyatakan langkah itu bertujuan memprioritaskan pasokan gas untuk pembangkit listrik dalam negeri.Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut pengurangan dilakukan sebesar 15 BBTUD dari Natuna dan 16 BBTUD dari Sumatra, dengan total 31 juta kaki kubik standar per hari. Singapura menjadi satu-satunya negara yang terkena pengurangan tersebut.Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) menyatakan pengurangan tersebut mencakup kurang dari 2 persen total kebutuhan gas harian Singapura.
Sekitar 95 persen listrik Singapura dihasilkan dari gas alam yang sebagian besar diimpor melalui jaringan pipa dari Indonesia.Menanggapi hal itu, PM Lawrence Wong dalam konvensi Partai Tindakan Rakyat (PAP) pada Minggu (25/10/2026) berharap semua pihak yang telah menandatangani kontrak komersial pasokan gas memenuhi komitmen mereka.
"Pasokan gas diatur dalam kontrak komersial. Kami berharap semua pihak memenuhi komitmen mereka, dan importir gas Singapura akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya," kata Wong.Wong menegaskan Singapura telah bersiap menghadapi risiko tersebut dengan berinvestasi membangun terminal gas alam cair (LNG) agar dapat mengimpor gas dari berbagai negara tanpa bergantung pada jaringan pipa. Ia juga menyebut Singapura tengah mengkaji potensi energi nuklir untuk ketahanan energi jangka panjang.
(veve)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar