Jakarta,Radar Garuda (27/10)-Di tengah ketegangan geopolitik dan disrupsi kecerdasan buatan (AI), Bank Indonesia (BI) mendesak penguatan industrialisasi dan hilirisasi untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih tahan banting.Hal ini mengemuka dalam forum Danantara Technology & Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Gubernur BI menekankan bahwa strategi export promotion dan import substitution menjadi kunci jangka menengah menghadapi divergensi neraca pembayaran.Saat ini, defisit transaksi berjalan Indonesia melebar signifikan.
Dari 0,97% PDB atau 3,58 miliar US Dollar di Kuartal I-2026, melonjak menjadi 3,34% PDB atau 12,49 miliar US Dollar di Kuartal II-2026. Kondisi ini memberikan tekanan struktural terhadap nilai tukar rupiah yang berada di level Rp 18.110 per US Dollar, terlemah dalam 4 bulan terakhir.BI menegaskan transformasi sektor riil harus bergerak paralel, meliputi industrialisasi berbasis hilirisasi, penguatan industri teknologi, pengembangan sektor padat karya, dan reformasi struktural melalui perbaikan iklim investasi dan strategi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Pemerintah sendiri telah menetapkan 18 proyek hilirisasi prioritas dengan nilai investasi Rp 618 triliun, dengan realisasi investasi sektor ini mencapai Rp 300,1 triliun pada Semester I 2026. Langkah ini dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tapi menjadi pusat produksi bernilai tambah.
(veve)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar